Akal-akalan Jason Ranti Menghindari Kemiskinan

Penyanyi folk ini bicara tentang tidak suka diwawancara, kebiasaan melamun dan ketakutan menjadi idola.

Posted on 2018-04-25 12:32:43   | by Rio Tantomo


         Tidak yang lebih klise dibanding ucapan, “Terserah penilaian orang saja,” atau yang lebih buruk, “ini album pendewasaan gue,” yang berasal dari mulut seorang seniman ketika diwawancara. Karena mungkin memang sebenarnya  tidak semua seniman mahir meladeni wawancara. Sebagiannya malah merasa canggung daripada semangat atau hati-hati ketimbang lepas. Dan sampai pada tahapannya sekarang ini, Jason Ranti mengaku tidak suka (terus) melakukannya. Dia merasa sesi wawancara mampu menumbuhkan topeng, baik di wajahnya maupun si penanya. Orang-orang jadi sok pintar, sok berarti atau malah sok menutup diri. Tapi, dengan mengedepankan etos kebiasaan orang Indonesia yang tidak enak menolak sesat belakangan, Jeje (panggilan akrabnya) masih belum mampu, seperti dikatakannya, menampik sodoran wawancara. Hal  yang kemudian membuatnya cenderung berlaku asal-asalan dalam menjawab pertanyaan – suatu keindahan seni dari sikap hidup bodo amat. “Gue mau (diwawancara) sama elo karena elo bawa arak Bali, ya oke sabi, perasaan gue jadi enak,” katanya. “Lagian,” lanjut Jeje santai, “enggak ada yang perlu ditanyain juga. Ngapain, sih buang-buang waktu elo sendiri?”

            Yah, sejujurnya ada banyak hal yang bisa ditanyakan pada dirinya, terlepas dari predikat mentereng sebagai calon penyanyi terobosan baru versi Indonesian Choice Awards-nya NET TV – haha – bahkan Jeje sendiri menertawakannya. Dia peduli tidak peduli. “Foto gue di situ kayak bintang Korea, rambutnya ketiup angin, ah ngentot!” katanya. Mungkin itu salah satu foto publisnya yang paling ganteng dibanding dua ratus foto lainnya di pencarian Google, kantung matanya gendut. Tapi apakah Jeje sudah mempersiapkan kemenangannya? Menyiapkan pidato podium, yang kemungkinan besar akan dilakukannya kikuk bersama mulut asam yang menagih tembakau apa adanya. Peduli tidak peduli. Ketika saat itu kami berbincang untuk wawancara, Jason Ranti tak lebih terlihat seperti kita-kita, pemuda biasa berusia 33 tahun yang melamun di siang hari dan pergi ke bar mengenakan sendal jepit pada malam hari, menggendong ransel dengan sisa kotak Marlboro tinggal sebatang.

Sementara dia tersenyum sambil berjongkok di depan celah pintu yang menjorok ke wilayah teras kecil di belakang bar, suara latar kami berbunyi spesial: sayup-sayup saksofon Eugen Bounty sedang melakoni sesi rekaman The Flowers; ada Boris Simanjuntak yang memimpin aba-aba, Njet Barmasyah mondar mandir dengan mata lelah, dan dramer mereka, Dado Darmawan datang menjamu kami dua gelas plastik Intisari. Jeje pelan-pelan menjawab obrolan dengan sabar, mencoba rileks melayani setiap tanda tanya dan undangan komentar yang dilayangkan. Ada kebimbangan di sana, kalimat-kalimat yang tidak selesai berhenti di tengah, keraguan sekaligus kepercayaan diri dalam intonasi terbakar. Termasuk beberapa permintaan off the record – yang disayangkan darinya, tentu saja. Pada akhirnya Jeje hanya seorang laki-laki yang sederhana dan terberkati, berusaha berpikir praktis dan bodoh tapi merasa. Seperti yang dia katakan, “Diam itu menyenangkan. Elo jadi bisa lihat sekitar. Dalam tanda kutip ‘pause’, bukan ‘stop’. Cuma diam dan melihat.”

Lalu suasana mendadak sunyi . . . kami berdua berhenti bicara, membiarkan krecek jangkrik dan saksofon di sekitaran mengambil alih. Asap berjalan lambat melewati lampu rekorder yang menyala merah . . . diam . . . dan senyap.

Tapi kita enggak bisa kelamaan diam sekarang.

(Kami berdua tertawa).

Pernah kena misinterpretasi di artikel orang-orang yang mewawancarai elo?

Iya. Kayak orang tanya, ‘Bang Je, elo baca Tan Malaka, ya? Elo baca Nietzsche, ya? Baca Jean-Paul Sartre? Noam Chomsky?’ seolah-olah gue itu intelektual. Padahal gue enggak. Tapi bukan berarti merendah juga, gue sedang tidak dalam posisi merendah. Gue cuma melihat ada banyak orang-orang keren di luar sana, dan gue amaze. Jadi, ya gue biasa-biasa aja. Yah, itu yang paling sering salah dikira. Gue itu biasa banget. Mungkin Tuhan sayang kali sama gue dan gue dilindungi.

Jadinya kayak ada suatu persepsi yang terbentuk selesai orang-orang dengar lagu elo, terlebih mereka enggak nongkrong bareng elo.

Gue hanya menulis apa yang pengen gue tulis. Persepsinya memang bisa aneh-aneh. Tapi, ya sudahlah. Gue mau bagaimana? Akhirnya bukan itu yang mesti gue pikirin. Ada lagi karya yang gue bikin di depan, nah itu lebih penting! Gue lebih suka fokus ke situ.

Sudah mulai menulis lagu-lagu baru? Karena beberapa kali gue nonton elo manggung lagunya itu-itu saja (tertawa). Enggak bosan?

Ada sesuatu yang lagi gue kerjakan, tapi gue belum bisa . . . hmmm. Sebenarnya itu yang sering gue tanyain ke Dado (Darmawan, dramer Flowers yang juga manajer Jeje), ‘Kagak bosen apa mereka nonton gue?’

Dan panggung elo cukup sering belakangan ini.

Yang gue pelajari, Indonesia itu luas gila. Elo main di Jakarta aja di beda titik, orang yang dateng selalu beda-beda. Di Bandung beda titik juga beda-beda. Gue sampe ngomong ke Dado, ‘Ngehek, gue enggak pengen manggung. Jiwa gue lelah’. Anjing. Tapi rasanya gue kayak enggak bersyukur.

Jiwa elo lelah, tapi ironinya ‘profesi’ ini menghasilkan.

Iya gue pikir hidup gue akan jadi gembel. Gila, gue bisa provide tempat tinggal – walaupun nyewa – untuk keluarga gue. Gue bisa kasih makan anak gue. Gue bisa beli efek gitar. Fuck, man. Gue rada enggak ngebayangin jaman dulu bisa kayak begini sekarang, karena gue telat . . .

Maksudnya?

Ada waktu-waktu dalam hidup yang sekiranya itu merupakan satu titik di mana elo bisa mapan, elo bisa provide diri elo sendiri, nah, kalau gue kelamaan luntang-lantung. Jadi ketika akhirnya terjadi, edan rasanya. Gue bisa beli makanan kaleng buat bayi. Gue bisa kasih makan orang lain, sabi . . .

Dari hasil ngoceh dan main gitar akustik (tertawa).

Iya gue menikmati itunya aja. Terus gue ajak orang untuk main bareng sama gue, dan dia akhirnya bisa ikut kasih rezeki ke keluarganya, rasanya seperti . . . ‘Terima kasih, Tuhan!’. Udah itu aja yang gue suka, kalau wawancara atau yang begitu-begitu, ah ngentot, kagak! Biarkan gue menikmati ini . . . (tertawa).

Okay, gue bisa mengerti. Sekarang kita berimajinasi. Maksudnya, gue bisa tebak hampir sebagian besar hari elo dihabiskan – ketika lagi enggak manggung – dengan berkhayal atau melamun.

Yes, bener. Sambil ngopi, ngerokok, enak, ya? 

Lihat Instagram . . .

Atau kalau gue mungkin lebih banyak bingungnya (terkekeh).

Hmmm.

Gue pengen hidup gue lebih tertata sebenarnya.

Kelamaan hidup berantakan, ya?

Menurut gue enggak ada masalah dengan yang namanya berantakan. Tapi harus tetap ada satu-dua hal yang mesti tertata, sesuatu yang elo anggap penting buat hidup elo.

Seperti apa misalnya?

(Diam). Kayak temen gue ada yang sakit, dan itu berkaitan dengan life style, yang dulu enggak elo pikirin, tapi sekarang ada momen-momen yang kayak, anjay . . .

Gue enggak ngerti.

Dalam hal tertata, ya . . . (mencari kalimat sejenak). Kayak gue sekarang lebih sering mandi. Karena ternyata mandi itu terapi. Goks! Terus, walaupun belum bisa gue lakuin, gue pengen bisa makan dengan jam teratur, dan olahraga. Kadang-kadang kita butuh suasana baru.

Elo yakin enggak, bakal hidup sampai umur 40?

Hmmm.

Pernah terpikir di lamunan kopi dan rokok tadi?

Yah, gue lagi menikmati proses yang lagi gue jalani ini saja – kayak sekarang gue baru punya anak.

Bahagia, ya?

Kalau lagi pegang anak, gile, gue enggak habis-habisnya bengong, amaze, ‘Kok bisa, ya dia ada?’ Terus elo jadi hanyut dalam sentimentil . . . ahhh . . . ini aneh . . .

Hidup ini aneh, ya. 

Aneh dan lucu cara dunia ini bekerja.

Yah kita cuma bisa pasrah aja (tertawa).

Nothing to lose.

Gue rasa itu pedoman hidup elo, nothing to lose.

(Tertawa). Ya mungkin ada unsur itu di gue; hidup itu pasrah, tapi ya jangan pasrah-pasrah juga, elo harus berusaha, tapi ya harus pasrah juga (mengeluarkan suara mengejek). Yah akhirnya kita cuma bisa nothing to lose, seperti elo tidak ada keterikatan terhadap apapun, jadi ya happy-happy saja.

Okay, balik lagi ke pertanyaan sebelumnya. Boleh kasih gue petunjuk tentang lagu-lagu baru elo?

Boleh, tapi buat elo aja. Maksudnya gue enggak pengen orang-orang tahu. Bagaimana, ya caranya?

Elo bisa minta off the record.

Okay, off the record. (Kemudian Jeje menceritakan proses penulisan beberapa lagu barunya).

Tapi kenapa elo enggak pengen orang-orang tahu?

Karena gue malas ditagih nanti sama orang-orang. Inilah salah satu contoh juga kenapa gue benci diwawancara.

Apa menurut elo respons yang ideal ketika orang-orang selesai mendengar lagu elo?

Gue cuma ingin memprovokasi terciptanya suatu diskusi atau misalnya, (mereka) terguncang. Maksudnya, gue amaze ketika melihat karya-karya orang yang bisa bikin gue kayak begitu. Gue jadi bisa mempertanyakan kembali mengenai semua hal di dunia ini.

Memunculkan benih-benih pemberontakan.

Musik itu alat sebenarnya buat gue. Alat buat ngelurusin yang bengkok dan ngebengkokin yang lurus. Gue memaknai musik seperti itu. Enggak tahu, tapi gue senang banget ngelihatin orang-orang yang, kayak elo datang ke sebuah gig, ‘Anjing, ini pada ancur banget, pada kayak ngentot semua, masuk neraka.’ Berbeda dengan pandangan umum. Hal-hal kayak gitu bikin gue excited. Bikin hidup lebih hidup.

Dibanding berada di sekitar orang-orang yang ‘mengincar’ masuk surga.

Yah dalam beberapa hal, kadang-kadang chaos itu menyenangkan.

Apa elo sudah berhasil memantik benih tersebut?

Gue enggak tahu. Katakanlah gue hanya sibuk berkutat dengan perasaan gue sendiri, fokus sama hidup gue sendiri. Terus kalau itu beresonansi dengan hidup orang lain, ya sudah, berarti mereka bisa mengerti apa yang gue rasain.

Masih suka canggung di atas panggung?

Kadang elo merasa absurd juga. Kayak gue kaget orang-orang pada sing along “Bahaya Komunis”, anjrit aneh rasanya buat gue karena itu bukan lagu yang dibuat untuk sing along. Kalau “Wonderwall” (Oasis) itu gue paham, itu lagu edan dan sangat enak.

Atau elo merasa paranoid ketika orang-orang mulai sadar dengan keberadaan elo sekarang?

Yah memang ketakutan-ketakutan itu ada. Kayak ada orang ngingetin, ‘Jangan-jangan nyebut Soeharto, entar hilang, lho’. Dan akhirnya yang gue pelajari adalah, betapa menyenangkannya menjadi satu anonim. Ketika terlalu banyak orang tahu siapa diri elo, gue takut enggak bisa ngomong terlalu bebas lagi. Tapi akhirnya gue balik lagi mikir untuk fokus berkarya, bikin sesuatu yang secara artistik memuaskan gue. Itu sumber kebahagiaan gue. Dan berdialog dengan diri sendiri.

Apa rasanya dijadikan idola buat orang?

Kikuk. Tapi bukan gue merendah. Gue kayak pengen bilang sama orang itu, ‘Eh, coba elo lihat ini, nah itu baru idola.’

Mungkin elo harus lebih sering terbiasa diidolakan.

Iya, harus lebih enggak mikirin lagi.

Kelihatan banget kalau elo sering berefleksi, berkomunikasi dengan diri sendiri.

Ya itu salah satu proses berpikir, menimbang-nimbang, menganalisa, memahami semua ini. Kayak elo tadi tanya tentang umur 40, gue enggak bisa jawab.

Okay. Gue baca satu artikel tentang elo di situs Metro News siang tadi, elo bilang di sana, ‘gue sekarang enggak kepingin nge-boti atau mabuk-mabuk . . . gue malah canggung dan kaku sama hal-hal kayak gitu.’ Entah elo memang jujur, bermain aman atau jaga imej.

Sejujurnya gue males ngomongin mabokan, karena menurut gue, mabok, ya mabok aja. Elo boleh mencari filosofi-filosofi mendalam di balik itu semua, tapi yah gitu aja. Kalaupun gue punya filosofi tentang itu, ya gue simpen aja sendiri. Jangan mabokannya yang elo fokus. (Selanjutnya Jeje minta off the record).

Scene musik masih menarik enggak buat elo hari ini?

Enggak tahu, cuma belakangan ini gue lebih suka lihat puisi. Gue enggak selalu betah nonton band, karena gue lebih bisa nangkep perasaan dan maksud dari puisi. Kadang kalau band, secara musik bagus, tapi ya sudah hanya berakhir di suasana enak aja. Enggak mengguncang pemikiran gue. Cuma bikin gue merasa senang. Puisi walaupun suasananya bikin boring, tapi gue merasa lebih greget. Bukan karena band hari ini enggak bagus, tapi gue lagi cari hal yang beda aja.

Atau elo sekarang sudah jadi orang yang lebih serius?

(Terdiam sebentar). Entahlah, Rio . . . entahlah.