Aca 'Straight Answer': 'Secara Literal, Musik Sudah Menyelamatkan Hidup Gue'

Sang vokalis hardcore membicarakan pertemuan pertamanya dengan musik ini hingga bagaimana musik tersebut menyelamatkan hidupnya

Posted on 2018-05-05 18:31:25   | by Pramedya Nataprawira

Aca 'Straight Answer': 'Secara Literal, Musik Sudah Menyelamatkan Hidup Gue


Straight Answer kini telah menginjak usia 22 tahun. Banyak cerita di dalamnya, menjalani tur sampai ke tanah Eropa maupun menjadi aksi pembuka untuk band-band yang menginspirasi mereka. Namun di 2016, sang vokalis Fadhila ‘Aca’ Jayamahendra mengalami musibah besar. Ia harus menjalani operasi karena adanya pecah pembuluh darah di kepalanya. Ketika itu kancah musik hardcore bergerak untuk menolongnya. Aca pun kini kembali sehat, hardcore menyelamatkan hidupnya dari kematian.

Berikut wawancara kami dengan Aca yang membicarakan pertemuan pertamanya dengan hardcore, hingga bagaimana musik tersebut menyelamatkan hidupnya:

Wawancara ini pertama kali ditayangkan lewat sebuah program podcast bernama ‘Behind That Scene’ di situs agordiclub.com.
.

Sebelum membahas umur Straight Answer yang berusia 22 tahun, saya ingin mengajak Anda flashback ke pertemuan pertama dengan hardcore. Apakah Anda masih ingat?

Kalau membicarakan [mendengarkan] musik pertama kali, gue masih ingat ketika itu gue masih TK. TK gue di tahun berapa, ya? Di tahun 1980 kalau tidak salah. Ini membicarakan “karier” bermusik untuk pertama kali, ya. Yang gue ingat ketika itu umur empat tahun, di TK kecil, satu kelas disuruh untuk menyanyi. Waktu itu pada nyanyi “Padamu Negeri”, “Halo-halo Bandung”, dan lagu-lagu Indonesia lainnya. Tiba lah giliran, “Ya Fadhila Jayamahendra, silahkan maju,” terus guru gue tanya, “Mau nyanyi lagu apa, Fadhil?” Terus gue jawab, “Saya mau nyanyi Kembar Group, judulnya ‘Frustrasi’,” guru gue bingung [tertawa], ya sudah gue menyanyi itu.

Pas gue masih TK, gue suka mendengarkan lagu-lagu yang dipasang oleh orang tua gue. Masuk SD di 1982, gue mendengarkan terus The Beatles dan langsung suka. Gue ingat mulai beli-beli kaset pertama kali itu The Beatles. Habis itu selang beberapa tahun setelah suka The Beatles, selera musik gue sedikit berbelok karena gue mulai mendengarkan band-band progresif. Gue mendengarkan band-band kayak Rush, Yes, Genesis, karena tetangga gue namanya Doni suka mendengarkan band-band seperti itu. Sampai di SMP, gue mulai pindah haluan dengan mendengarkan Guns N’ Roses. Dan gue ingat saat SMP, gue membeli kaset The Sex Pistols album The Great Rock ‘n’ Roll Swindle, Ramones album Brain Drain, dan Anthrax album State of Euphoria. Dari situ gue mulai suka-suka musik yang keras, gue mulai main band ketika itu. Di perpisahan SMP tahun 1989 gue main membawakan Sex Pistols, “Wah, musik seperti ini yang gue suka. Gue suka banget!”

Masuk SMA di tahun 1992 gue mulai mendengarkan The Stone Roses sampai Morrissey, tapi di situ belum mendengarkan hardcore sama sekali. Gue ketika menonton acara pun kalau ada yang membawakan Black Flag, gue nggak tahu kalau itu disebut hardcore. Yang gue tahu ketika itu hanya thrash metal saja sebutannya, belum tahu kalau ada istilah hardcore. Gue baru tahu ada istilah tersebut sekitar 1995 dan mulai mencari tahu banget di 1996, mulai mendengarkan Youth of Today, Insted, Minor Threat, sampai Gorilla Biscuits. Ketika itu orang-orang sudah pada main band, gue juga mau [tertawa]. Gue cari orang-orang yang belum punya band, “Mau bawain apa nih?” Karena suka hardcore juga punk, [jadilah] si Straight Answer ini membawakan Bold sampai Misfits. Dari situ mulai serius mendengarkan hardcore dan main band, dan tidak terasa sudah sampai sekarang.

Apa perasan yang paling terwakilkan ketika Anda memainkan musik hardcore?

Kalau dulu gue merasa lirik-lirik hardcore sedikit berbeda dengan musik-musik lain. Rasanya seperti [semua orang] bergabung dan bersama-sama, ada pesannya yang gue tangkap dan catat. Jadi kalau gue manggung, perasaan yang gue dapatkan adalah gue merasa bahagia ketika orang bahagia atas apa yang gue coba sampaikan. Karena gue juga ingin orang senang dan dapat sebuah cerita, apalagi kalau mereka mencerna [lirik] yang disampaikan.  Itu yang gue suka di hardcore, ada sesuatu yang gue sampaikan.

Seperti apa kancah musik hardcore ketika Anda membentuk Straight Answer pada 1996?

Kalau pada tahun itu ramai ya. Seingat gue semua orang hardcore [tertawa]. Ya, kalau tidak hardcore, punk, atau skinhead. Untuk yang lebih tua mendengarkannya metal karena lebih duluan. Pada saat itu setiap acara ramai sekali, bisa 500 orang kaosnya hardcore semua. Gila sih menurut gue karena band hardcore banyak banget dan acara setiap minggu pasti ada dan selalu ramai. 

Pada 1996 acara hardcore sering diadakan di sebelah kampus Jayabaya, ada tanah kosong dan di situ ada café namanya Harley Café. Kenapa namanya Harley Café? Karena di dalam café itu ada Harley Davidson digantung pake rantai [tertawa]. Gue rasa orang yang punya benar-benar suka Harley dan hardcore. Tapi tempat itu nggak bertahan lama, jadi kita pindah ke belakang Harley Café di mana di situ ada tanah kosong juga yang dibikin panggung. Habis itu pindah ke Poster Café, di situ baru ramai dan hardcore mulai bermunculan banyak sekali.

Straight Answer sempat terlibat di kompilasi Walk Together, Rock Together pada 1998. Bisa Anda ceritakan bagaimana Straight Answer terlibat di kompilasi ini?

Kompilasi itu digagas oleh teman-teman dari tongkrongan yang bernama Locos. Waktu itu syaratnya punya lagu sendiri, kita ikut karena punya lagu “Made to Resist”. Gue lupa rekamannya di mana. Sehabis rekaman terus rilis, pada saat itu terasanya fun saja tidak terpikirkan bakal main band sampai sekarang. 

Kalian sempat merilis demo “Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas”. Apakah Anda masih ingat proses pembuatan lagu tersebut?

[tertawa] Rekamannya live di Tebet, proses penggadaannya di rumah gue sendiri pakai double deck Polytron. Gue beli kaset kosong, foto kopi, lem sendiri kasetnya untuk side a dan side b, rekam sendiri sampai head-nya kotor terus bersihin sendiri. Kalau dipikir-dipikir, gila juga ya? [tertawa]. Karena banyak banget bikinnya, nggak cuma 100 atau 200 kopi saja. Dijualnya kalau lagi ada manggung saja dan ketemu orang, dijual cuma tiga ribu rupiah.

Saya ingin membahas salah satu lagu Straight Answer paling anthemic yang berjudul “Ini Saatnya”. Apa latar belakang dari lagu tersebut?

Waktu itu lagu ini gue tulis untuk mewakili perasaan pribadi gue dan orang-orang yang datang ke acara di akhir pekan. Karena zaman dulu kalau acara seringnya di hari Minggu di mana besoknya orang-orang pada sekolah atau kerja. Tapi di hari Minggu itu orang-orang tetap totalitas, mau sampai benjol atau terkilir tetap saja tidak peduli. Senin ya Senin, bagaimana besok saja yang penting gue hari ini harus gila-gilaan dulu. Energi itu yang coba untuk gue tangkap. Gue juga ketika dulu menonton acara seperti itu, dipikir-pikir setiap Senin pasti leher pegal, kaki pegal, pinggang pegal, karena pengalaman di hari Minggu dan tidak kapok.

Sudah lebih dari dua dekade Anda bersama Straight Answer ada di kancah musik hardcore tanah air. Anda memandang para generasi muda seperti apa?

Kalau yang gue rasakan dari tahun ke tahun, semakin di depan [panggung] semakin muda [tertawa]. Yang tua-tua kalau tidak di belakang atau tidak datang. Tapi menurut gue di mana-mana memang seperti itu. Kalau gue lihat hardcore sekarang sedang dalam masa berjuang yang paling keras, karena keadaan sudah tidak sama dengan, katakanlah, dua tahun terakhir. Ketika seseorang bikin acara, mereka benar-benar berjuang, benar-benar mengharapkan orang-orang untuk datang dan membeli tiket. Gue juga berharap adanya regenerasi band, jadi bandnya, katakanlah, bukan Straight Answer terus. Harus ada band-band baru yang, katakanlah, daya ledaknya seperti Straight Answer. Ini memancing orang baru juga untuk menonton. Kalau Straight Answer terus yang main, gue saja bosan apalagi yang menonton.

Ketika Straight Answer menginjak usia 20 tahun, secara mengejutkan Anda tertimpa musibah. Anda harus menjalani operasi karena hipertensi. Apa yang Anda rasakan ketika pertama kali bangun dari operasi tersebut?

Gue tidak terbayangkan sama bakal sekali kena [penyakit] stroke, tidak ada satu pun orang yang ingin seperti itu. Ketika gue sakit sebelum gue sadar sepenuhnya, gue melihat banyak sekali dukungan baik secara moril maupun materil. Dari dunia musiknya khususnya hardcore, sampai ke dunia olahraga. Akhirnya gue berpikir kalau musik sudah banyak memberikan sesuatu ke gue, kalau bukan karena musik gue tidak tahu bagaimana membayar biaya rumah sakit. Ketika gue sakit banyak sekali orang yang ingin gue kembali sembuh dan manggung lagi. Dan saat gue sembuh, gue berjanji kepada diri gue sendiri kalau gue harus balas budi. Gue harus manggung lagi karena ini salah satu cara gue untuk berterima kasih ke orang-orang. Secara literal musik sudah menyalamatkan hidup gue, jadi gue harus benar-benar balik lagi. Gue benar-benar berhutang budi dan nyawa.

Apa perbedaan yang paling Anda rasakan sebelum dan sesudah operasi?

Kalau sekarang gue lebih mudah lelah. Sederhananya kalau sedang nongkrong, terasanya mengantuk dan lelah. Kalau habis manggung, terasa lelahnya bisa dua sampai tiga hari kedepan. Cuma gue tetap bersyukur karena gue bisa balik lagi untuk manggung saja, itu gila banget. Gue orang yang beruntung banget, gue tidak jadi meninggal, sembuh dan kembali normal tidak seperti kebanyakan orang yang mengalami stroke.

Sampai kapan Anda dan Straight Answer terus melaju?

Sekuatnya dan sebosannya. Kalau buat gue, Straight Answer ibaratnya seperti mobil yang sudah rongsok atau jompo. Catnya sudah terkelupas, bannya sudah bocor, mesinnya sudah keluar asap. Tapi selama masih bisa jalan, kami akan jalan terus. Sebenarnya kalau dari kami tidak punya target apa pun. Kalau dapat kami anggap bonus, kalau tidak ya jalan terus. Jadi kalau masih kuat dan belum bosan, kami akan jalan terus.

Tonton aksi Straight Answer di Synchronize Fest 2018 pada 5, 6, 7 Oktober mendatang di Gambir Expo, JIEXPO Kemayoran, Jakarta.